Presiden SBY soal Kunjungan Bush: Lihat secara Jernih dan Tidak Emosional
Senin, 20 November 2006 09:54:00 | Berita Nasional | (0 view)
Kepada wartawan usai penutupan APEC di Hanoi, Vietnam, Minggu, Presiden Yudhoyono menyatakan dapat memahami jika ada elemen masyarakat yang tidak suka dengan kebijakan AS, apalagi tidak semua rakyat AS sendiri setuju dengan kebijakan Presiden Bush.
Namun demikian Presiden berharap agar tidak ada tindakan-tindakan yang nantinya bisa merugikan bangsa Indonesia sendiri.
"Kalau mau melakukan unjuk rasa, lakukan dengan tertib dan patuhi aturan yang berlaku. Kalau sampai terjadi sesuatu, yang rugi negara kita sendiri," katanya.
Presiden Yudhoyono menjelaskan, kunjungan Bush merupakan kunjungan balasan atas lawatannya ke AS beberapa waktu lalu yang bertujuan meningkatkan kerja sama saling menguntungkan antara kedua negara.
"Tidak ada agenda lain atau topik khusus sebagaimana dikhawatirkan orang-orang misalnya untuk mendikte kita," katanya.
Kunjungan Bush, juga merupakan rangkaian dari kehadirannya pada pertemuan APEC di Vietnam.
Menurut Presiden , merupakan suatu yang lazim bagi kepala negara atau pemerintahan setelah mengikuti pertemuan puncak di sebuah kawasan lalu melanjutkan kunjungan ke negara-negara lainnya yang ada di kawasan itu.
Presiden menepis berbagai pendapat negatif terkait kunjungan Bush yang menyebutkan kunjungan Bush tidak bermanfaat bagi Indonesia, AS ingin mendekte Indonesia, dan pandangan miring lainnya.
Menurut Presiden , selama ini Indonesia memiliki kerja sama yang luas dengan AS, hampir sama dengan kerja sama serupa dengan negara besar lainnya seperti Jepang, dan anggota Uni Eropa.
AS merupakan mitra dagang Indonesia terbesar nomor dua setelah Uni Eropa. Pada 2005 nilai perdagangan Indonesia dengan AS mencapai 14 miliar dolar Amerika dengan perincian ekspor 9,9 miliar dolar Amerika dan impor 3,9 miliar dolar Amerika.
"Jadi kita surplus 6 miliar dolar Amerika, atau Rp55 triliun. Kita punya 'luxury' (keuntungan, red) karena bisa memasarkan produk kita. Artinya dengan pasar yang besar ini, industri dan perdagangan kita bisa maju," katanya.
Selain itu, kata Kepala Negara, AS merupakan investor nomor dua terbesar setelah Jepang. Ketika Indonesia memiliki keterbatasan modal, maka kerja sama merupakan sesuatu yang sangat menguntungkan.
Indonesia dan AS juga memiliki kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, energi, pertahanan, juga penanganan bencana alam.
Saat ini, kata Presiden, sedang dimatangkan kerja sama menyangkut sistem peringatan dini tsunami dengan AS, selain kerj asama serupa juga dilakukan dengan Jepang dan Jerman.
DUKUNG ACEH
Pada bagian lain, Presiden juga menyatakan, terkait proses perdamaian di Aceh, AS jelas mendukung keutuhan dan integritas teritorial Indonesia serta tidak mendukung separatisme.
"AS juga mendukung cara kita menyelesaikan Aceh. Itu berbagai contoh berbagai keuntungan dari kerja sama yang kita peroleh," katanya.
Meski demikian, kata Presiden, agar tidak terjadi salah pengertian perlu ditegaskan bahwa tidak selalu kebijakan AS segaris dengan kebijakan pemerintah Indonesia.
Presiden mencontohkan, ketika AS melakukan operasi militer ke Irak, Indonesia dengan jelas dan gamblang tidak setuju karena berpandangan cara penyelesaian masalah Irak tidak harus dengan cara kekerasan atau ofensif. (Ant)Sumber :www.analisa.online

