Presiden Minta Harga Pupuk Diringankan

Usai menghadiri penutupan Sidang Pleno Konferensi Dewan Ketahanan Pangan (DKP) di Ruang Garuda, Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/11), Mentan ditanyai wartawan tentang ada tidaknya alternatif solusi agar tidak terjadi kenaikan HET  (harga eceran tertinggi) pupuk bagi petani. Terlebih, rencana kenaikan HET petani ditolak mentah-mentah oleh berbagai kalangan.  Mentan lalu mengatakan, dirinya telah menerima instruksi tentang hal itu. "Alternatif yang akan kita kembangkan untuk meringankan beban petani di antaranya adalah menaikkan subsidi. Karena ini masih harus dibicarakan oleh DPR," ungkap Anton. Berkaitan dengan itu, mentan lalu menyebutkan, kenaikan HET pupuk yang pernah disampaikan Departemen Pertanian belum menjadi keputusan pemerintah. "Itu masih ancer-ancer dan kita masih mencari jalan bagaimana supaya tidak membebankan masyarakat petani," kata Mentan. "Apakah subsidinya yang ditambah ataukah subsidinya yang langsung masuk ke petani, itulah yang masih dirumuskan. Kita masih perhitungkan dengan kebutuhan pupuk yang terus meningkat, kemudian harganya dan dana subsidinya yang masih tersisa Rp 5, 8 triliun," sambungnya lagi. Menurut Anton, sejumlah pemikiran yang masih dipertimbangkan Departemen Pertanian di antaranya adalah menaikkan subsidi pemerintah. Kemudian jumlah urea yang disubsidi harus dibatasi seperti dulu. Lalu subsidi langsung ke petani.  Namun, masing-masing langkah itu memiliki risiko. Anton lalu menyinggung tentang adanya pemakaian pupuk oleh petani dalam jumlah yang tidak rasional. "Hitungan kita yang lalu, bahwa pupuk itu harusnya cukup. Kalaupun ada tambahan-tambahan, ya tidak seberapa. Tetapi, karena pemakaian yang berlebihan, ini seringkali terjadinya ketidakcukupan pupuk bagi petani. Contohnya, kemarin saya lihat sendiri di Karawang, petani menggunakan pupuk secara berlebihan," lanjut Anton.          Anton lalu menegaskan, harga pupuk memang mahal. "Jangan dikira harga pupuk itu murah. Harga internasionalnya saja sudah mencapai 240 dollar AS per ton. Dalam negeri? Ya, sekitar itu harganya. Jadi, subsidi itu akan menjadi sangat besar sekali kalau kita mau mempertahankan HET atau naik, tetapi tidak terlalu besar," kata Anton. Sehingga, jika kondisinya seperti sekarang ini--permintaan dipenuhi dengan harga HET yang baru dan adanya subsidi harga, maka HET pupuk memang mengalami kenaikan harga. "Karena itu, sekarang kita masih menggodok untuk menekan harga pupuk serendah mungkin dan memberikan keringanan terhadap petani. Kalau kita bisa langsung memberikan subsidi pupuk ke petani, tentu dengan syarat adanya data petani yang baik dan harga yang bisa ditekan. Maksudnya, keuntungan produsen ya secukupnya, tetapi juga tidak merugikan produsen," papar Anton. (Suhartono)Sumber :Kompas