Sinabung Meletus,Belasan Ribu Warga Mengungsi

Kemudian, di Kantor Kementerian Agama Tanah Karo (200 orang), Jambur Pulungen (600 orang),Jambur Dahlian Natula (1.120 orang), daerah Tiga Binanga (1.500 orang), dan daerah Langkat (900 orang). “Itu data hingga pukul 17.00 WIB, jumlahnya 11.509 orang. Mungkin saja terus bertambah,” ujar Kepala Posko Induk Penanganan Musibah Gunung Sinabung Darwinsyah di Kantor Gubernur Sumut di Medan tadi malam. Gunung Sinabung meletus,pukul 00.15 WIB.

Terlihat asap membubung hingga ketinggian 1.500 meter serta abu hitam yang disertai lontaran lava pijar ke arah barat daya dan selatan serta tebaran abu halus piroklastik. Semburan lava pijar menyebabkan areal puncak hingga sekitar dua pertiga lereng Gunung Sinabung terbakar. Letusan utama terjadi sekitar 10–15 menit dan titik api masih terlihat hingga pukul 02.00 WIB pada ketinggian 1.200 dan 1.400 meter.

Pada pukul 02.40 WIB, titik api padam dan terlihat tumpukan abu putih kotor dengan ketebalan 3 cm di Desa Simacem,Kecamatan Naman Teran,yang berlokasi sekitar 4 km dari puncak Gunung Sinabung. Berdasarkan pantauan SINDO, suasana desa di kawasan Gunung Sinabung kemarin siang mencekam. Semua rumah tertutup tak berpenghuni. Asal Sitepu, warga Desa Simacem, Kecamatan Naman Teran, tergopoh-gopoh mengikatkan karung plastik berisi barang ke jok sepeda motornya.

Dia bersama seorang anaknya adalah warga terakhir yang meninggalkan kampung setelah letusan Gunung Sinabung. “Kampung sudah tak ada orang,”kata Asal. Selain Simacem, ada enam desa lagi di Kecamatan Naman Teran yang sudah dikosongkan karena terancam letusan Gunung Sinabung. Desa itu adalah Bekerah,Suka Nalu, Sigarang-garang, Kuta Gunggung,Kuta Rakyat,dan Kebayaken.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Gunung Sinabung menjadi awas. Semua penduduk di radius 6 km dari gunung harus diungsikan ke Kabanjahe dan Berastagi. Hingga tadi malam, desa-desa di kawasan Sinabung sudah kosong dari penduduk.

Sejumlah warga di kaki Sinabung yang berada di tiga kecamatan, yakni Naman Teran, Payung, dan Tiga Derket, telah mengungsi. Desa hanya dijaga beberapa penduduk dan sejumlah anggota Brigade Mobil (Brimob).Hingga pukul 18.00 WIB, kepulan asap masih terus turun. Namun, hujan yang turun sekitar pukul 19.00 membuat debu menghilang. Semburan lava pijar juga sudah tidak terlihat lagi.

Minim Fasilitas

Di lokasi pengungsian, fasilitas dasar yang tersedia bagi para pengungsi jauh dari layak. Bahkan, banyak warga yang belum tertampung di tempat pengungsian sementara. Di sejumlah lokasi pengungsian, fasilitas air bersih untuk mandi dan cuci tidak tersedia dengan baik.Demikian pula fasilitas penerangan. Akibatnya,aktivitas pengungsi di tempat pengungsian terhambat karena minimnya penerangan.

Jumlah warga yang mengungsi juga tidak sebanding dengan sarana yang disediakan Pemkab Karo. “Susah mau cari air karena ramai kali orang di sini, jadi kita terpaksa tahan saja kalau mau buang air kecil,”ucap Lina Br Ginting yang ditemui di lokasi pengungsian Taras kemarin. Lina bersama keluarganya mengungsi dari Desa Bekerah sejak Minggu (29/8) malam. Sejak mengungsi ke lokasi penampungan, dia mengaku hanya mendapatkan makanan dan masker. Adapun fasilitas lain seperti alas tidur belum tersedia.

Berstatus Awas

Pascaletusan, PVMBG menetapkan Gunung Sinabung berstatus awas serta termasuk ke dalam gunung berapi tipe A.Sebelumnya, gunung ini tergolong gunung berapi tipe B lantaran sejak tahun 1600 belum pernah meletus. Menurut Kepala PVMBG Surono, penetapan status Sinabung ini dilakukan sejak Minggu (29/8) pukul 10.00 WIB. Letusan Sinabung, Minggu dini hari lalu,menjadi alasan perubahan status ini.

Dengan demikian, sejak penetapan itu, PVMBG akan memantau aktivitas vulkanik Sinabung selama 24 jam. “Jadi, penduduk dari radius 6 km harus keluar dari desa.Tidak ada toleransi.Biar satu jiwa pun harus diselamatkan,” kata Surono di Desa Suka Nalu, Kecamatan Naman Teran,Karo kemarin sore. Sehari sebelum letusan, tim PVMBG sudah tiba di kaki Sinabung. Namun,belum sempat mereka memasang alat pemantau gunung berapi di Sinabung, gunung ini sudah meletus.

Alat pemantau baru terpasang Minggu pagi. Alat pemantau yang dipasang di tiga titik di Sinabung bisa dipantau dari rumah warga yang dijadikan posko sementara tim PVMBG.Dari sini, tim akan terus memberi laporan mengenai aktivitas Sinabung.“Bila menurun kegiatannya, akan kami beri panggilan untuk kembali,” imbuh Surono. Letusan Sinabung, menurut Surono,menjadi pelajaran.Sebab, sebelumnya gunung yang masuk golongan B biasanya tidak langsung berstatus awas.

Oleh karena itu, Gunung Sibayak yang tidak jauh dari Sinabung juga akan dipantau. Ke depan, PVMBG berencana mendirikan pos pemantauan tetap di kawasan gunung ini. Perubahan status Gunung Sinabung dari tipe B menjadi tipe A membuat warga dan aparatur Kabupaten Karo panik.Mereka tidak memiliki persiapan yang matang dalam menangani bencana letusan gunung berapi.

“Sejak awal kami memang tidak punya pengalaman dalam menangani gunung berapi. Jadi begitu mendapatkan peristiwa seperti ini warga jadi panik,” ujar Bupati Karo Daulat Daniel Sinulingga saat menggelar pertemuan di Pendopo Kabanjahe kemarin. Kepala BNPB Syamsul Maarif menilai, kepanikan yang melanda warga merupakan hal yang wajar dalam situasi seperti ini.Apalagi, Gunung Sinabung sejak tahun 1600 dinyatakan sebagai gunung yang tidak aktif atau bertipe B.

“Itu wajar, dalam kondisi seperti ini masyarakat panik. Karena memang periode panik itu 72 jam, di mana pun lokasi bencananya,” ucap Syamsul Maarif. Maarif menilai, reaksi cepat pemerintah kabupaten sudah tepat lantaran mengevakuasi warga dan menyiapkan sarana penampungan sementara.Kemudian menyiapkan dapur umum untuk kebutuhan warga. (rijan irnando purba/ suharmansyah/ant) 

Ket.Gambar:

BUTUH BANTUAN, Pengungsi korban letusan Gunung Sinabung berkumpul di balai pertemuan adat, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumut, kemarin. Warga masih belum berani kembali ke rumah.

Sumber :Seputar Indonesia