Menteri Agama : Sukseskan MTQ Tingkat Nasional di Maluku - Harus Jaga Kedamaian

Dia mengatakan, meskipun konflik terjadi pada 11 Setember lalu, namun tidak menyiutkan komitmen pemerintah pusat untuk tetap menggelar kegiatan tersebut di Ambon. “Kami tetap menggelar MTQ di Ambon, apalagi saya sudah terima laporan bahwa Ambon semakin kondusif,” katanya.
Dia mengatakan, pada saat konflik pecah, wartawan sempat menanyainya apakah MTQ akan dialihkan, namun katanya pada saat itu dia tidak yakin bahwa konflik tersebut terjadi dengan motif ingin mengulangi kembali konflik tahun 1999.
“Saya yakin, masyarakat tidak akan mengulangi lagi konflik yang terjadi pada tahun 1999 silam. Konflik telah berlalu, tapi traumanya belum berlalu. Sehingga tidak mungkin itu terulang lagi,” katanya, saat memberikan sambutan pada Halal Bihalal Pemda Maluku dengan Masyarakat Maluku di Jakarta, yang digelar di Bal Room Kempinski, Jakarta, Selasa (20/9).
Dharma menyerukan agar lupakan konflik, dan jauhi diri darinya. Serta membangunperdaban yang penuh kedamaian. Dia menjelaskan, Tuhan memberi kasih kepada manusia tanpa pilih kasih. Maka mengapa manusia harus memberi kasih dengan pilih kasih.
“Mari kita membangun sebuah ukhua antar seluruh agama. Tanpa memandang perbedaan sebagai masalah. Dengan mengutamakan persaudaraan. Saya ingin katakan, jika konflik terjadi, kita tidak bisa membangun, tidak bisa menciptakan peradaban yang beradab,” katanya.
Dirinya yakin semua agama memerintahkan kasih sayang, kerukunan, dan kebaikan. MTQ merupakan momentum yang untuk menciptakan Maluku dan Indonesia yang lebih baik.
“Saya sangat terharu mendengar gambaran persiapan MTQ, soal kemanan yang semakin kondusif, soal persiapan lainnya, apalagi ada pernyataan dari para tokoh Maluku, DPRD dan Pemda Maluku untuk tetap dan siap menjalankan MTQ Tingkat Nasional di Maluku,” tandasnya.
Maka itu kata dia, jagalah kedamaian. “Karena kita semua mengutuk kekerasan. Kita semua mengutuk anarkisme, kita mengutuk unsur-unsur yang membuat kedamaian terganggu,” katanya.
Dia mengatakan sebetulnya toleransi di Maluku tinggi, contohnya dia mendapat penjelasan dari Wakil Gubernur Maluku, Said Assagaf, kalau sedikitnya 200 pendeta di Maluku menyatakan siap menampung peserta MTQ di rumah-rumah mereka jika perhotelan di Maluku tidak mampu menampung. “ini luar biasa,” katanya.
Sementara itu Gubenur Maluku mengatakan, Islam di Maluku adalah Islam yang memiliki corak tersendiri. Karena Islam yang pertama kali tersiar mulai dari Negeri Hitu menyatu dengan akar dan budaya Maluku, sehingga ada yang bernama pela dan gandong, dan juga bongso di kalangan sarane.
“Corak seperti ini tidak terdapat di wilayah loain di Indonesia, bahkan di dunia. Untuk itulah kita tidak ingin agama dijadikan komoditi politik, baik salam maupun sarane, jangan mau dihjadikan sumber konflik,” katanya.
Dia menjelaskan, konflik tanggal 11 mestinya tidak boleh terjadi. Karena Maluku sudah lepas dari konflik agama lebih dari 10 tahun silam. Beberapa konflik seperti sengketa tanah, yang pernah terjadi, tidak pernah beralih ke konflik SARA. Maka itu jangan sampai lagi terjadi konflik yang di mana masyarakat Maluku sudah berusaha melupakannya.
Namun kata dia, ada titik lemah di masyarakat Maluku. “Yakni kita tidak mampu nebahan diri. Inilah yang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memanfaatkan pola lama guna menghidupkan konflik. “Maka itu saya minta dari rakyat Maluku sejabodetabek, agar mewartakan yang sejuk ke Maluku,” katanya.
Pemerintah Maluku, kata dia, menyampaikan terimakasih kepada pemerintah pusat yakni Menteri Agama yang tetap melakukan MTQ tingkat nasional di Maluku pada tahun 2012 mendatang.
Sebagaimana diketahu, dalam acara ini terjadi kericuhan usai Menteri Agama melakukan sambutan. Meskipun berhasil ditenangkan, namun tidak dapat mengembalikan kondisi yang khidmat seperti sebelumnya. (fik/fmc)
Ket.Gambar:
Menteri Agama RI Surya Dharma Ali
Sumber :Fajar Tags :Berita Nasional
