SBY dan 20 Menteri Hadiri Akad Nikah Putri Sultan

Perhelatan Royal Wedding ala Jogja itu mendapat perhatian negara-negara lain. Buktinya, beberapa hari hingga kemarin menjelang hari H prosesi akad nikah, banyak ucapan selamat dikirimkan lewat email ke Sekretariat Gubernur DIJ di Kepatihan. Di antaranya datang dari Jepang, Kerajaan Inggris, Norwegia, Jerman, Suriname, Slovakia, Aljazair, dan Kerajaan Belanda. "Juga ada ucapan selamat dari Presiden AS Barack Obama," kata Dra Kuskasriati dari media center pernikahan.


Sehari menjelang proses akad nikah, kedua calon mempelai kemarin (GKR Bendoro dan KPH Yudanegara) telah menjalani prosesi siraman. Prosesi tersebut mengandung arti agar keharuman bunga siraman meresap ke tubuh calon pengantin hingga menjadi harum tubuhnya. Sehingga kelak membawa keharuman nama keluarga.

Suasana hening terasa dalam siraman pengantin putri di Dalem Sekar Kedhaton. Prosesi menyucikan diri lahir batin diawali dengan kedatangan GKR Pembayun (kakak tertua) yang mengutus?GKR Maduretno (kakak nomor tiga) bersama abdi dalem untuk membawa air dari tujuh sumber menuju ke Dalem Keputren.


Air tersebut berasal dari Dalem Bangsal Sekar Kedhaton, Dalem Regol Manik Hantoyo, Dalem Bangsal Manis, Dalem Regol Gapura, Dalem Regol Kasatriyan, Dalem Kasatriyan Kilen, dan Gadri Kasatriyan. Air tujuh sumber itu ditaburi Kembang Setaman yang terdiri mawar, melati, kanthil, dan kenanga.


Juga disiapkan konyoh (lulur atau bedak basah dibuat dari tepung beras dan kencur), manca atau panca, landa merang, santen kanil, air asem, dan dua butir kepala tua. Selain itu ada juga daun-daunan yang terdiri daun kluwih, daun kara, daun apo-apo, daun awar-awar daun turi, daun dadap srep, alang-alang, dan duri kemarung. Tidak lupa?kendi atau klenting. Kendi berisi air bersih untuk menutup dan mengakhiri upacara siraman.

Siraman pertama dilakukan GKR Hemas (ibunda) dengan menyiram pada bagian rambut Bendara. Wakil Ketua DPD RI itu melanjutkan siraman ke pundak putri bungsunya dan bagian tubuh lain. Siraman dilanjutkan calon besan Hj. Nurbaiti Helmi diikuti kerabat Kraton seperti GBRAy Murdokusumo, BRA Puruboro, dan Nyai Kanjeng Raden Penghulu Dipodiningrat


GKR Pembayun menuturkan, untuk upacara siraman sebetulnya jumlah orang yang memandikan tidak dibatasi dan asal jumlahnya ganjil. Meski begitu tokoh yang melakukan siraman harus benar-benar orang terpilih, yaitu mempunyai budi pekerti yang dapat dijadikan teladan. Sebab yang menyiram akan menjadi teladan bagi pernikahan kedua pasangan," ujar Pembayun. Siraman ini diakhiri juru rias atau sesepuh (orang yang dituakan) dengan memecah kendi atau klenthing dari tanah liat.


Selesai siraman, calon pengantin putri, GKR Hemas dan rombongan menuju Bangsal Kasatriyan untuk melaksanakan siraman calon pengantin pria. Sedangkan KPH Yudanegara yang mengenakan setelan putih dan kain picis menunggu di Gedong Sri Katon.


Prosesi siraman dimulai pukul 11.00 WIB di Gedung Pompa, Kasatriyan. GKR Hemas kembali memimpin prosesi dan melakukan siraman pertama pada calon pengantin pria yang duduk di atas bangku warna hijau. Siraman berikutnya dilakukan Sang Ibunda. Laki-laki yang bernama asli Achmad Ubaidillah itu menggunakan air yang disiramkan sebagai air wudhu.

.

Usai siraman, KPH Yudanegara kembali ke bangsal kasatriyan untuk meneruskan prosesi nyantri, sedangkan calon pengantin putri kembali ke Keputren untuk dipingit. Keduanya dilarang bertemu hingga ijab qabul yang akan dilaksanakan pagi ini pukul 07.00 WIB.

 

""Dulu kalau mau ngobrol pas di pingit ya harus surat-suratan. Sekarang gampang, bisa SMS-an," canda GKR Hemas.

Tadi malam juga dilakukan tantingan, yakni Sultan Hamengku Buwono X bertanya kepada putrinya akan keyakinan, kemantaban dan kesiapan hati untuk menikah. Acara  tersebut disaksikan ibu pengantin putri, GKR Hemas, beserta keluarga. Hadir pula petugas KUA Kecamatan Kraton serta para abdi dalem.


Setelah itu digelar malam midodareni yang diiringi tabuhan gamelan Nguyu-uyu dari Bangsal Srimaganti. Midodareni berasal dari kata Widodari atau bidadari yang memiliki makna, calon pengantin putri menunggu datangnya bidadari turun ke bumi. Tradisi ini berasal dari legenda Jaka Tarub dan Nawang Wulan.

Dalam prosesi itu pengantin putri dibawa ke Bangsal Sekar Kedaton didampingi GKR Pembayun dan harus terjaga hingga tengah malam. Saat akan melaksanakan midodareni, calon penganten putri juga diberi petuah-petuah dan nasihat serta doa-doa.


Sementara di sekitar Keraton dan Bangsal Kepatihan para bergodo dan abdidalem juga memasang tarub untuk upacara panggih dan resepsi. Mereka memasang getepe, janur kuning, pisang, tebu, padi dan uborampe lain untuk melestarikan tradisi.

Koordinator panitia KRT Yudohadiningrat menuturkan, tarub merupakan hiasan janur kuning atau daun kelapa muda yang disuwir dan dipasang di depan pintu gerbang. Tarub memiliki simbol bahwa hajatan akan segera dilaksanakan.

Hari  kedua prosesi pernikahan agung itu juga diwarnai berita duka. Minggu tengah malam (16/10) adik Sultan Hamengku Buwono IX, Gusti Bendara Raden Ayu (GBRAy) Sumarman Suryo Diprojo (87 tahun) tutup susia. Almarhumah adalah putri bungsu HB VIII dari istri ketiga. Sejak pagi kemarin telah tiba di Jogja dan telah disemayamkan di Dalem Benawan di lingkungan Keraton Jogjakarta.


Pengageng Purolakso Keraton KRT Suryohadiningrat menyatakan, almarhumah meninggal sekitar pukul 22.00 WIB di kediamannya Liga Mas, Jakarta. Ia mengaku bibinya tersebut telah cukup lama sakit dan terakhir mengalami sakit panas dan flu.


Ia memastikan kabar duka tersebut tidak akan menganggu prosesi pernikahan putri bungsu Sultan HB X. "Besok pagi (hari ini, Red) almarhumah akan dimakamkan di makam keluarga raja di Kotagede," ujarnya.(leg/tya/jpnn/kum)

Sumber :Jawa Pos
Tags :Berita Nasional