Enam SMP di Solo Ikuti Rivers of The World

Program yang akan berlangsung selama setahun ke depan ini diharapkan menumbuhkan kecintaan siswa kepada lingkungan, khususnya sungai serta menumbuhkan kesadaran para siswa untuk menjaga kelestarian dan kebersihan sungai.  

 Enam SMP di Solo yang diajak bekerja sama adalah SMP Kasatriyan I, SMP Kristen Kalam Kudus, SMP Muhammadiyah 7, SMP Negeri 1 , SMP Negeri 4, dan SMP Negeri 9.

Siswa dari sekolah-sekolah tersebut akan menjalin hubungan dengan siswa dari enam sekolah di Inggris dalam program connecting classrooms yang menyertai program Rivers of The World, yakni Gladesmore Community School, Wallington School for Girls, Etham Foundation School, Hendon School, Sadgehill School, dan Hampstead School.  

Selain menjalin kerjasama dengan Indonesia, program ini juga melibatkan kota terpilih di Bangladesh, Korea Selatan, Argentina, Irlandia, dan Uni Emirat Arab. Rivers of The World adalah program utama.

"Tujuan kami untuk mendorong anak muda menge nali sungai-sungai di daerahnya, mendorong mereka menciptakan suatu karya yang inspirasi nya berasal dari sungai-sungai setempat, dan menghubungkan mereka dengan jaringan internasional," kata Direktur Festival Thames Adrian Evans yang mengunjungi Kota Solo, Rabu (25/1).   

Hadir pula, Country Director British Council Keith Davies dan perwakilan seniman dari Inggris, Rebecca Picton. Keith Davies mengatakan, pih aknya tertarik memfasilitasi program ini karena dapat membantu pengembangan keahlian siswa kedua negara di bidang artistik, kesadaran lingkungan, dan isu antarbudaya. Rebecca mengatakan, program ini mengajak anak muda untuk ikut memikirkan masalah yang di hadapi lingkungan sekitarnya yang juga dihadapi di belahan dunia lain.   

"Ini tahun keenam Festival Thames. Di London, kami berusaha mendekatkan kembali masyarakat, terutama kaum mudanya kepada Sungai Thames. Melalui pendekatan seni budaya, mereka mulai tergugah dan ikut menjaga sungai. Kini, Sungai Thames menjadi kebanggaan orang London," tambah Adrian.  

 Sungai Thames yang dulu paling kotor di Eropa kini berubah menjadi tujuan wisata yang diidam-idamkan turis asing yang berkunjung ke London. Menurut Adri an, tidak kurang 22 juta turis setiap tahunnya menyusuri tepi Sungai Thames untuk berwisata.  

 "Kami berharap hal yang sama terjadi pada Sungai Bengawan Solo. Inilah mengapa kami memilih siswa-siswa di Solo untuk bergabung dengan kami. Hasil karya mereka yang akan dibuat mulai bulan Juni mendatang akan kami pamerkan di Festival Thames bulan September tahun ini. Karyanya bisa apa saja, patung, lukisan, atau batik dalam koridor enam tema yang kami tentukan," kata Adrian.   

Sumber :Kompas
Tags :Berita Daerah