Provinsi

DKI JAKARTA

Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya

Profil

Nama Resmi

:

Provinsi DKI Jakarta

Ibukota

:

Jakarta

Luas Wilayah

:

664,01 Km2 *)

Jumlah Penduduk

:

9.809.857 jiwa *)

Suku Bangsa

:

Betawi, Jawa, Sunda dan lain-lain.

Agama

:

Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dll.

Wilayah Administrasi

:

Kab. : 1 (Kepulauan Seribu), Kota : 5, Kec. : 44, Kel. : 267, Desa : 0.  *)

Batas Wilayah

:

Wilayah Provinsi DKI Jakarta sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten/Kota Bekasi, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tangerang dan Kota Depok, sebelah Barat berbatasan dengan Kota Tangerang dan sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa

Lagu daerah

:

Kicir-kicir, Jali-jali, Keroncong kemayoran

Website  

:

http://www.jakarta.go.id

 *) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011

Sejarah

 

 

 

Sejarah Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai.

Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

 

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama “Kalapa�? yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang.

 

Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Sunda Kelapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Sunda Kelapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kelapa menjadi “Jayakarta�? pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.

 

Nama Jayakarta diganti menjadi “Batavia�?. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lingkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.

 

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia.

 

Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi “Jakarta�?.

 

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

Arti Logo

Pintu Gerbang, adalah lambang Kekhususan Jakarta sebagai pintu keluar masuk kegiatan-kegiatan nasional dan hubungan internasional.

Tugu Nasional, adalah lambang Kemegahan, Daya Juang dan Cipta.

Padi dan Kapas, adalah lambang Kemakmuran.

Ombak Laut, adalah lambang Kota, Negeri Kepulauan.

Sloka "Jaya Raya", adalah Slogan Perjuangan Jakarta.

Perisai Segilima, adalah melambangkan Pancasila.

Warna Emas pada pinggir Perisai, adalah lambang Kemuliaan Pancasila.

Warna Merah pada Sloka, adalah lambang Kepahlawanan.

Warna Putih pada Pintu Gerbang, adalah lambang Kesucian.

Warna Kuning pada Padi, Hijau, Putih dan Kapas, adalah lambang Kemakmuran dan Keadilan.

Warna Biru, adalah lambang angkasa bebas dan luas.

Warna Putih, adalah lambang alam laut yang kasih.

Nilai Budaya

Dalam kehidupan sehari-harinya penduduk asli DKI Jakarta (orang betawi) berada dalam anekaragam lingkungan sosial dengan berbagai latar belakang budaya yang beranekaragam dari berbagai penjuru nusantara.

 

Dalam kaitannya dengan sistem kekerabatan, misalnya dalam penarikan garis keturunan, mereka mengikuti prinsip bilineal yaitu menarik garis keturunan dari pihak ayah dan pihak ibu.

 

Adat menetap nikah sangat tergantung pada perjanjian kedua pihak sebelum pernikahan berlangsung. Ada pengantin baru yang setelah menikah menetap disekitar kediaman kerabat suami begitu pula sebaliknya.

 

Dalam rangka lingkaran hidup individu atau daur hidup, orang betawi mengenal bermacam-macam upacara adat, mulai sejak bayi dalam kandungan sampai kepada kematian dan sesudah kematian itu sendiri seperti misalnya : selamatan nuju bulanin atau kekeba, upacara kerik tangan dalam rangka kelahiran, khitanan (pengantin sunat), khatam Qur’an (pengantin tamat), adat berpacaran bagi kaum remaja (ngelancong), upacara perkawinan dan lain sebagainya.

 

Sesuai dengan latar belakang suku betawi ini, maka DKI Jakarta menjadi tempat berpadunya berbagai budaya, akan tetapi kemudian muncul budaya yang bisa disebut sebagai sesuatu yang khas seperti tarian betawi yang memiliki ciri-ciri Melayu dan Arab maupun Cina.

back