Provinsi
DI YOGYAKARTA
Profil | Sejarah | Arti Logo | Nilai Budaya
Profil
Nama Resmi | : | Provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta |
Ibukota | : | Yogjakarta |
Luas Wilayah | : | 3.133,15 Km² *) |
Jumlah Penduduk | : | 3.876.391 Jiwa *) |
Suku Bangsa | : | Jawa, Sunda Parahiyangan, Melayu, Cina, Batak (Tapanuli), Minang Kabau, Bali, Madura, dan Lain-lain. |
Agama | : | Islam : 3.084.990 Jiwa, Kristen Protestan : 92.097 Jiwa, Kristen Katholik : 162.806 Jiwa, Budha : 5.387 Jiwa, Hindu : 5.798 Jiwa. |
Wilayah Administrasi | : | Kab.: 4, Kota: 1, Kec.: 78, Kel.: 46, Desa : 392 *) |
Lagu Daerah | : | Pitik Tukung, Sinom |
Website | : | *) Sumber : Permendagri Nomor 66 Tahun 2011 |
Sejarah
Daerah Istimewa Jogjakarta merupakan gabungan dari dua wilayah Swapraja, yakni Kasultanan Jogjakarta dan Kadipaten Pakualaman. Kasultanan Jogjakarta Hadiningrat didirikan pada tahun 1755 oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hangmengku Buwono I. Kadipaten Pakualaman didirikan pada tahun 1813 oleh Pangeran Noto Kusumo (saudara sultan Hangmengku Buwono II) yang kemudian bergelar Adipati Paku Alam I. Baik Kasultanan maupun Pakualaman diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Kerajaan yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri.
Pada saat ini Keraton Jogjakarta dipimpin oleh Sri Paduka Sultan Hangmengku Buwono X dan Pura Pakualaman dipimpin oleh Sri Paku Alam IX. Keduanya memainkan peranan yang sangat menentukan di dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat istiadat Jawa dan merupakan pemersatu masyarakat Jogjakarta.
Arti Logo

Landasan Idiil Pancasila, digambarkan dengan bintang emas bersegi lima (Ketuhanan Yang Maha Esa), tugu dan sayap mengembang (Kemanusiaan yang adil dan beradab), bulatan-bulatan berwarna merah dan putih (Persatuan Indonesia), ombak, batu penyangga saka guru/tugu (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan), dan padi-kapas (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).
17 bunga kapas, 8 daun kapas dan 45 butir padi, adalah lambang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bulatan (golong) dan tugu berbentuk silinder (giling), adalah lambang tata kehidupan gotong royong.
Nilai-nilai keagamaan, pendidikan dan kebudayaan, digambarkan dengan bintang emas bersegi lima dan sekuntum bunga melati di puncak tugu. Bunga melati dan tugu yang mencapai bintang menggambarkan rasa sosial dengan pendidikan dan kebudayaan luhur serta ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bunga melati yang sering digunakan dalam upacara sakral mengandung nilai seni, budaya dan religius.
Warna-warna merah putih yang dominan, serta tugu yang tegak, adalah lambang semangat perjuangan dan kepahlawanan tatanan “mirong�? pada hiasan saka guru sebagai hiasan spesifik Yogyakarta, adalah lambang semangat membangun.
Sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Jogjakarta dilukiskan dengan sayap mengembang berbulu 9 helai di bagian luar dan 8 helai di bagian dalam, menggambarkan peranan Sri sultan Hangmengkubuwono IX dan Sri Paku alam VIII, yang pada tanggal 5 September 1945 mengeluarkan amanatnya untuk menggabungkan daerah Kasultanan Jogjakarta dan Kadipaten Pakualaman menjadi Daerah Istimewa Jogjakarta.
Warna hijau tua dan hijau muda, adalah lambang keadaan alam Daerah Istimewa Jogjakarta dilukiskan dengan karena ada bagian ngarai yang subur dan ada daerah perbukitan yang kering.
Candrasengkala / Suryasengkala terbaca dalam huruf jawa adalah lambang rasa Suka Ngesthi Praja, Yogyakarta Trus Mandhiri, yang artinya dengan berjuang penuh rasa optimisme membangun Daerah Istimewa Jogjakarta untuk tegak selama-lamanya: rasa (6) suka (7) ngesthi (8) praja (1) tahun jawa 1876, Jogja (5) karta (4) trus (9) mandhiri (1) tahun masehi 1945, yaitu tahun de facto berdirinya Daerah Istimewa Jogjakarta.
Tugu yang dilingkari dengan padi dan kapas, adalah lambang persatuan, adil dan makmur.
Ukiran, sungging dan prada yang indah, adalah lambang nilai-nilai peradaban yang luhur digambarkan secara menyeluruh berwujud.
Nilai Budaya
| Upacara Labuhan | : | Parang Tritis, Parang Kusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan Dlepih Kayangan |
| Upacara Grebeg | : | Grebeg Poso pada tanggal 1 Syawal, Grebeg Besar pada tanggal 10 Besar, Grebeg Mulud pada tanggal 12 Rabbiulawal |
| Upacara Saparan | : | Bulan Sapar di Gamping Sleman |
| Upacara Metri Desa (Bersih Desa) | : | Di semua desa di wilayah Daerah Istimewa Jogjakarta |
Falsafah masyarakat setempat
Dasar falsafah pembangunan daerah Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) adalah Hamemayu Hayuning Bawono, sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat Jogjakarta berdasarkan nilai budaya daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Hamemayu Hayuning Bawono bermakna suatu filosofi kepemimpinan yang selalu mengupayakan peningkatan kesejahteraan rakyat dan mendorong terciptanya sikap serta perilaku hidup individu yang menekankan keselarasan dan keserasian antara sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Illahi dalam melaksanakan hidup dan kehidupannya.
Hakikat budaya adalah hasil cipta, karsa dan rasa, yang diyakini masyarakat sebagai sesuatu yang benar dan indah. Demikian pula budaya Ngayogyakarta Hadiningrat, yang diyakini sebagai salah satu acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Secara filosofis, budaya jawa, khususnya budaya Ngayogyakarta Hadiningrat dapat digunakan sebagai sarana untuk mewujudkan masyarakat ayom, ayem, tata, titi tentrem, karto raharjo. Dengan perkataan lain, budaya tersebut akan bermuara pada masyarakat yang penuh dengan kedamaian, keamanan, keteraturan, dan sejahtera.

